Pada pembahasan kali ini saya akan mengangkat tema mengenai Pemikiran Ekonomi John Stuart Mill (1806-1873 M). Pembahasan JS Mill akan sangat menarik, karena tokoh ini adalah salah satu tokoh yang masuk kedalam mazhab klasik bentukan Adam Smith, tetapi, JS Mill juga tokoh yang kemudian “diduga” sebagai orang yang mulai dekat dengan aliran sosialis dengan tokoh sentral Karl Mark seorang filsuf Jerman (1818-1883 M).
Pembahasan ini akan dibahas secara komprehensif dalam bab selanjutnya. Selain itu, JS Mill adalah salah satu tokoh yang sangat berpengaruh hingga beberapa dasawarsa, yang artinya sangat diperhitungkan. Maka kemudian, dalam penulisan ini akan dibahas secara rinci mulai dari biografi, perkembangan pemikirannya dalam bidang ilmu ekonomi hingga implikasi terbesar dari teori yang sudah diciptakannya.
Sebagai seorang tokoh yang berpengaruh cukup lama, John Stuart Mill tentu
memberikan sumbangsih besar terhadap keilmuan ekonomi secara umum. Maka
dari itu, makalah ini berfokus untuk membahas beberapa hal yang tertuang dalam
rumusan masalah berikut: Bagaimana biografi, pemikiran ekonomi, dan implikasi
dari pemikiran ekonomi John Stuart Mill?
A. Biografi John Stuart Mill
A. Biografi John Stuart Mill
John Stuart Mill lahir di London dan besar dibawah asuhan ayahnya yang
cerdas akan tetapi suka memaksa, James Mill (1773-1836) (Skousen, 2015). Lebih lanjut, Skousen menjelaskan bahwa Mill tua (ayah J.S. Mill) adalah kawan dekat dari David Ricardo dan Jeremy Bentham, dan seorang utilitarian radikal, orang yang keras kepala dan memiliki semangat tinggi, akan tetapi tidak berperasaan. Sementara ibunya adalah seorang yang tidak terdidik dan tidak punya opini yang kuat (Skousen, 2015). Lebih lanjut, hal ini wajar jika kemudian J.S. Mill jarang menyebutkan tentang ibunya dalam autobiografinya. Kemudian, dari segi keluarga J.S. Mill memiliki tiga saudara laki-laki dan lima saudara perempuan yang kesemuanya tidak terlalu diistimewakan oleh ayahnya (James Mill/Mill Senior).
Sebagai seorang yang cerdas, J.S. Mill pada usia tiga tahun sudah belajar bahasa latin, pada usia dua belas tahun sudah menulis tentang sejarah (Deliarnov, 2014). Lebih lanjut Deliarnov menuliskan, bahwa pada usia tiga belas tahun, J.S. Mill sudah bisa mengoreksi buku Elements of Political Economy yang ditulis oleh ayahnya (James Mill). Kemudian, di usia 16 tahun Ia mampu mengorganisasi sebuah perkumpulan yang disebut utilitarian society. Dilain pihak, Skousen (2015) menyatakan bahwa justru pada usia 8 tahun J.S. Mill sudah mampu membaca karya plato, dan sejak saat itulah J.S. Mill dengan cepat mempelajari kalkulus,geometri dan filsafat. Ia kemudian juga menekuni Princia Mathematica Karya Newton saat masih di usia 11 tahun. Fakta diatas, hanya sedikit dari wujud kecerdasan seorang J.S. Mill muda.
Adapun kemudian, yang sangat disayangkan adalah J.S. Mill tidak pernah diajari tentang agama oleh James Mill dan ibunya, Ia justru diajari utilitarianisme Benthem, yang akhirnya membuat J.S. Mill menjadi seorang “Radikal Filosofis” (Skousen, 2015). Hal ini pula yang pada saatnya memunculkan statemen bahwa J.S. Mill adalah anak yang terlalu cepat dewasa, karena memang J.S. dididik langsung oleh ayahnya untuk belajar ilmu ekonomi klasik, yang pada usia 14 tahun ayahnya mengirimkannya ke Prancis. Disana Ia disibukkan dengan belajar dan membuatnya hanya memiliki sedikit teman saja. Dia menuliskan, “Aku tak pernah menjadi anak-anak” (Courtney dalam Skousen, 2015). Bahkan tokoh-tokoh kontemporer mensifati J.S. Mill sebagai “seorang pria yang diraja, botak, terlalu intelek, kurang bergairah, puritan dan serius”.
Sungguh pun begitu, anggapan bahwa J.S. Mill adalah orang yang terlalu serius dan kurang besosialisasi rupanya juga kurang tepat, karena dia juga melakukan aktivitas yang dilakukan orang lain pada umumnya, seperti berkebun, main piano, sering bepergian keluar negeri (Skousen, 2015). Akan tetapi, karena dimasa mudanya sudah sangat bekerja keras dan bergumul dengan ilmu pengetahuan yang memeras tenaga intelektual, membuatnya terkena penyakit yang cukup parah diusia 21 tahun, Skousen menyebut penyakit yang diderita J.S. Mill adalah gangguan syaraf. Akibat penyakit tersebut, J.S. Mill melakukan penarikan diri untuk sementara dari “mesin pemikir”, dan kemudian Ia melakukan pelarian pada dunia musik dan puisi (Deliarnov, 2014). Bahkan, yang lebih mencengangkan adalah akibat penyakit tersebut Ia berfikir untuk bunuh diri, tetapi kemudian Ia membaca buku Wordworth dan akhirnya tersadarkan dan mengurungkan keputusannya, sekalipun kemudian Ia kembali mengalami kejatuhan mental termasuk saat ayahnya (James Mill) meninggal pada tahun 1836.
-> James Mill dan J.S. Mill adalah Partner di Segala Hal
J.S. Mill dan James Mill (ayahnya) adalah partner kerja sepanjang hayat. Ia bekerja bersama ayahnya di East India Company dan memegang posisi yang bisa disejajarkan dengan Sekretaris Negara, mengingat status East India Company di India dikuasai oleh Inggris (Skousen, 2015). Seperti ditulis oleh Stafford dalam Skousen (2015), “mereka memainkan peran penting dalam menguasai India meskipun mereka tak pernah pergi ke sana, tak bisa bicara bahasa India atau bahkan tak pernah bertemu orang India”.
-> Pertemuan J.S. Mill dengan Harriet Taylor (1807-1851)
Tahun 1830 adalah titik balik J.S. Mill terkhusus dalam kehidupan pribadi. Ia bertemu seorang wanita—seorang utilitarian yang cerdas dan menganut dogmatisme—yang bernama Harriet Taylor. Ia pun jatuh hati pada wanita itu, akan tetapi ternyata Harriet Taylor sudah menikah. Sekalipun demikian, yang mengherankan adalah suami Taylor justru mempersilahkan JS Mill untuk berkunjung kerumahnya. Bahkan menurut beberapa catatan, persahabatan tersebut -JS Mill dan Harriet Taylor- terjadi selama kurun waktu 23 tahun. Kemudian, ditahun 1851 suami Taylor meninggal dunia, akhirnya Mill dan Taylor memutuskan untuk menikah.
cerdas akan tetapi suka memaksa, James Mill (1773-1836) (Skousen, 2015). Lebih lanjut, Skousen menjelaskan bahwa Mill tua (ayah J.S. Mill) adalah kawan dekat dari David Ricardo dan Jeremy Bentham, dan seorang utilitarian radikal, orang yang keras kepala dan memiliki semangat tinggi, akan tetapi tidak berperasaan. Sementara ibunya adalah seorang yang tidak terdidik dan tidak punya opini yang kuat (Skousen, 2015). Lebih lanjut, hal ini wajar jika kemudian J.S. Mill jarang menyebutkan tentang ibunya dalam autobiografinya. Kemudian, dari segi keluarga J.S. Mill memiliki tiga saudara laki-laki dan lima saudara perempuan yang kesemuanya tidak terlalu diistimewakan oleh ayahnya (James Mill/Mill Senior).
Sebagai seorang yang cerdas, J.S. Mill pada usia tiga tahun sudah belajar bahasa latin, pada usia dua belas tahun sudah menulis tentang sejarah (Deliarnov, 2014). Lebih lanjut Deliarnov menuliskan, bahwa pada usia tiga belas tahun, J.S. Mill sudah bisa mengoreksi buku Elements of Political Economy yang ditulis oleh ayahnya (James Mill). Kemudian, di usia 16 tahun Ia mampu mengorganisasi sebuah perkumpulan yang disebut utilitarian society. Dilain pihak, Skousen (2015) menyatakan bahwa justru pada usia 8 tahun J.S. Mill sudah mampu membaca karya plato, dan sejak saat itulah J.S. Mill dengan cepat mempelajari kalkulus,geometri dan filsafat. Ia kemudian juga menekuni Princia Mathematica Karya Newton saat masih di usia 11 tahun. Fakta diatas, hanya sedikit dari wujud kecerdasan seorang J.S. Mill muda.
Adapun kemudian, yang sangat disayangkan adalah J.S. Mill tidak pernah diajari tentang agama oleh James Mill dan ibunya, Ia justru diajari utilitarianisme Benthem, yang akhirnya membuat J.S. Mill menjadi seorang “Radikal Filosofis” (Skousen, 2015). Hal ini pula yang pada saatnya memunculkan statemen bahwa J.S. Mill adalah anak yang terlalu cepat dewasa, karena memang J.S. dididik langsung oleh ayahnya untuk belajar ilmu ekonomi klasik, yang pada usia 14 tahun ayahnya mengirimkannya ke Prancis. Disana Ia disibukkan dengan belajar dan membuatnya hanya memiliki sedikit teman saja. Dia menuliskan, “Aku tak pernah menjadi anak-anak” (Courtney dalam Skousen, 2015). Bahkan tokoh-tokoh kontemporer mensifati J.S. Mill sebagai “seorang pria yang diraja, botak, terlalu intelek, kurang bergairah, puritan dan serius”.
Sungguh pun begitu, anggapan bahwa J.S. Mill adalah orang yang terlalu serius dan kurang besosialisasi rupanya juga kurang tepat, karena dia juga melakukan aktivitas yang dilakukan orang lain pada umumnya, seperti berkebun, main piano, sering bepergian keluar negeri (Skousen, 2015). Akan tetapi, karena dimasa mudanya sudah sangat bekerja keras dan bergumul dengan ilmu pengetahuan yang memeras tenaga intelektual, membuatnya terkena penyakit yang cukup parah diusia 21 tahun, Skousen menyebut penyakit yang diderita J.S. Mill adalah gangguan syaraf. Akibat penyakit tersebut, J.S. Mill melakukan penarikan diri untuk sementara dari “mesin pemikir”, dan kemudian Ia melakukan pelarian pada dunia musik dan puisi (Deliarnov, 2014). Bahkan, yang lebih mencengangkan adalah akibat penyakit tersebut Ia berfikir untuk bunuh diri, tetapi kemudian Ia membaca buku Wordworth dan akhirnya tersadarkan dan mengurungkan keputusannya, sekalipun kemudian Ia kembali mengalami kejatuhan mental termasuk saat ayahnya (James Mill) meninggal pada tahun 1836.
-> James Mill dan J.S. Mill adalah Partner di Segala Hal
J.S. Mill dan James Mill (ayahnya) adalah partner kerja sepanjang hayat. Ia bekerja bersama ayahnya di East India Company dan memegang posisi yang bisa disejajarkan dengan Sekretaris Negara, mengingat status East India Company di India dikuasai oleh Inggris (Skousen, 2015). Seperti ditulis oleh Stafford dalam Skousen (2015), “mereka memainkan peran penting dalam menguasai India meskipun mereka tak pernah pergi ke sana, tak bisa bicara bahasa India atau bahkan tak pernah bertemu orang India”.
-> Pertemuan J.S. Mill dengan Harriet Taylor (1807-1851)
Tahun 1830 adalah titik balik J.S. Mill terkhusus dalam kehidupan pribadi. Ia bertemu seorang wanita—seorang utilitarian yang cerdas dan menganut dogmatisme—yang bernama Harriet Taylor. Ia pun jatuh hati pada wanita itu, akan tetapi ternyata Harriet Taylor sudah menikah. Sekalipun demikian, yang mengherankan adalah suami Taylor justru mempersilahkan JS Mill untuk berkunjung kerumahnya. Bahkan menurut beberapa catatan, persahabatan tersebut -JS Mill dan Harriet Taylor- terjadi selama kurun waktu 23 tahun. Kemudian, ditahun 1851 suami Taylor meninggal dunia, akhirnya Mill dan Taylor memutuskan untuk menikah.
Pernikahan tersebut ditentang keras oleh keluarga JS Mill. Pertentangan
tersebut kemudian memunculkan keretakan hubungan JS Mill dengan
keluargannya, bahkan Ia hanya mengunjungi ibunya satu kali. Itupun, terjadi
sebelum ibunya meninggal karena kanker di tahun 1854. JS Mill mengakui bahwa
pengaruh Harriet Mill terhadap dirinya sangat besar. Terutama yang kemudian
membawanya kearah sosialisme. Maka kemudian tak heran pula jika Ia selalu
membangga-banggakan istrinya, “Ia merasa tak ada yang bisa menandingi dirinya
dan istrinya”. Dan kemudian, Mill meningggal pada 1873 karena demam.
B. Pemikiran Ekonomi John Stuart Mill
B. Pemikiran Ekonomi John Stuart Mill
Mill dikenal sebagai penulis yang sangat berbakat.
Reputasinya sebagai penulis diakui sewaktu ia menerbitkan buku pertamanya, a
System of Logic tahun 1843. Buku kedua, On the Liberty (atau Mark Skousen
menuliskannya dengan “On Liberty”) terbit tahun 1859. Sementara itu, Ia juga
memiliki beberapa buku lainnya yang cakupannya lebih luas, seperti Essay on
Some Unsettled Questions of Political Economy, terbit tahun 1844, sekalipun
sudah siap sejak tahun 1829 saat Ia masih berusia 23 tahun dan Principles of
Political Economy With Some of Their Applications to Social Philosophy
(diterbitkan tahun 1848)
Bukunya yang terakhir dimaksudkan untuk
menyarikan teori-teori ekonomi pada masanya, bahkan kenyataanya, buku tersebut dapat dikatakan sebagai versi modern dari The Wealth of Nations Adam
Smith. Demikian, terkaji karena buku itu menjadi pegangan utama mahasiswa
yang ingin belajar ilmu ekonomi di abad ke XIX. Buku tersebut dianggap sebagai
apogee dari mazhab klasik, mulai dari pandangan Adam Smith, Malthus, Ricardo
dan Say. Dalam buku itu, Ia menyatakan bahwa tidak ada teori
orisinal dari dirinya sendiri. Akan tetapi, sesuai penjelasan Deliarnov bahwa,
tampaknya Ia terlalu merendah, menurutnya, hal itu disebabkan konsep return to
scale adalah orisinal dari JS Mill. Bahkan, Mill adalah orang pertama yang
mengemukakan ide tentang konsep elastisitas permintaan, yang kemudian
dikembangkan lebih lanjut oleh Marshall
Skousen (2015) menuliskan bahwa buku yang paling
fonumenal bukanlah “Principles of Political Economy with Some of Their
Applications to Social Philosophy”, melainkan On Liberty. Menurut Skousen, Mill
pernah menyatakan, “saya tidak mengubah atau menambah lagi isi buku ini,
selamanya”. Lebih lanjut, buku tipis tersebut, dianggap sebagai karya klasik dalam
filsafat. Akan tetapi, pendukung pasar bebas akan kecewa jika mereka
mengharapkan menjumpai tulisan yang menyerang intervensionisme negara. On
Liberty adalah buku yang membahas protes terhadap moralitas koersif, bukan
terhadap pemerintah. Karena lama dipengaruhi oleh istrinya, prinsip utamanya
adalah penolakan terhadap sikap Victorian-intoleransi, sikap ingin besar diri,
kelemahan calvinisme, puritanisme dan kekakuan Kristen.
Pada lain pihak, Mill mendukung toleransi, skeptisisme, dan pemikiran bebas. Dia mundukung hak pilih perempuan, dan hak perempuan untuk memegang jabatan dan berpartisipasi dalam semua bidang. Maka kemudian, secara umum, filsafat personalnya adalah Laisez Faire: individu bebas untuk bertindak sepanjang tindakannya tidak merugikan orang lain
-> Pengikut Ricardian yang Membela Say
JS Mill banyak dipengaruhi oleh ekonomi Ricardian. Akibatnya, baik dalam pengertian bahwa Ia mendukung sistem kebebasan natural Adam Smith dan hukum pasar Say. Dalam Essaynya yang berjudul “Of the Influence of Consumption on Production”, Ia menuliskan bahwa konsumen proto-Keynesian sebagai sebuah doktrin “Jahat” dan absurditas yang gamblang. Dia menyatakan, “konsumsi tidak boleh didorong”.
Pada lain pihak, Mill mendukung toleransi, skeptisisme, dan pemikiran bebas. Dia mundukung hak pilih perempuan, dan hak perempuan untuk memegang jabatan dan berpartisipasi dalam semua bidang. Maka kemudian, secara umum, filsafat personalnya adalah Laisez Faire: individu bebas untuk bertindak sepanjang tindakannya tidak merugikan orang lain
-> Pengikut Ricardian yang Membela Say
JS Mill banyak dipengaruhi oleh ekonomi Ricardian. Akibatnya, baik dalam pengertian bahwa Ia mendukung sistem kebebasan natural Adam Smith dan hukum pasar Say. Dalam Essaynya yang berjudul “Of the Influence of Consumption on Production”, Ia menuliskan bahwa konsumen proto-Keynesian sebagai sebuah doktrin “Jahat” dan absurditas yang gamblang. Dia menyatakan, “konsumsi tidak boleh didorong”.
Sementara itu, berkenaan dengan upaya pemerintah dalam menstimulasi
konsumen secara artifisial, Mill (1874) menuliskan:
“Usaha pemerintah untuk mendorong konsumsi akan menurunkan tabungan; yakni, mempromosikan konsumsi tidak produktif dengan mengorbankan konsumsi produktif, dan mengurangi kekayaan nasional melalui cara yang sesungguhnya dimaksudkan untuk menambahnya”.
Menurut Skousen, ini adalah prinsip Say. Tidak mengejutkan, ketika Mill menuliskan bukunya pada 1848, dia mengesampingkan diskusi konsumsi dan sepenuhnya berfokus pada produksi dan distribusi. Pada lain pihak, Mill juga menentang uang kertas yang tidak dapat dipertukarkan.
-> JS Mill Mendukung Redistribusi kekayaan dan Pendapatan
Selanjutnya, Mill mengikuti jejak Ricardo dalam memisahkan antara prinsip distribusi dan hukum produksi. Mill menyatakan:
“Hukum dan syarat-syarat produksi kekayaan berasal dari kebenaran fisika. Tidak ada hal opsional atau arbitrer didalamnya. Tetapi distribusi adalah soal lain. Distribusi kekayaan adalah hal yang berbeda. Ini adalah soal institusi manusia semata. Setelah hal itu ada, manusia, baik secara individu atau kolektif, dapat berbuat semaunya. Mereka bisa menempatkannya untuk melayani siapa si kekayaan tergantung kepada hukum dan adat masyarakat.
Menurut Hayek dalam Skousen (2015), ini adalah jenis pemikiran yang membuat para intelektual mendukung semua jenis serangan terhadap properti dan kekayaan, dan mendukung pajak dan skema penyitaan yang ditujukan untuk pendistribusian ulang kekayaan dan pendapatan, sebab mereka menganggap skema radikal ini bisa dilakukan tanpa merugikan pertumbuhan ekonomi. Maka kemudian Boaz dalam Skousen (2015) menyatakan, “saya secara pribadi percaya bahwa alasan yang membuat intelektual masuk ke sosialisme adalah John Stuart Mill”. Bahkan dalam penjelasan selanjutnya, Stafford menyatakan, Mill mempengaruhi beberapa ilmuwan lainnya, hingga mereka kemudian mengatakan, “kita semua sekarang sosialis”
-> Perselingkuhan Mill dengan Sosialisme
“Usaha pemerintah untuk mendorong konsumsi akan menurunkan tabungan; yakni, mempromosikan konsumsi tidak produktif dengan mengorbankan konsumsi produktif, dan mengurangi kekayaan nasional melalui cara yang sesungguhnya dimaksudkan untuk menambahnya”.
Menurut Skousen, ini adalah prinsip Say. Tidak mengejutkan, ketika Mill menuliskan bukunya pada 1848, dia mengesampingkan diskusi konsumsi dan sepenuhnya berfokus pada produksi dan distribusi. Pada lain pihak, Mill juga menentang uang kertas yang tidak dapat dipertukarkan.
-> JS Mill Mendukung Redistribusi kekayaan dan Pendapatan
Selanjutnya, Mill mengikuti jejak Ricardo dalam memisahkan antara prinsip distribusi dan hukum produksi. Mill menyatakan:
“Hukum dan syarat-syarat produksi kekayaan berasal dari kebenaran fisika. Tidak ada hal opsional atau arbitrer didalamnya. Tetapi distribusi adalah soal lain. Distribusi kekayaan adalah hal yang berbeda. Ini adalah soal institusi manusia semata. Setelah hal itu ada, manusia, baik secara individu atau kolektif, dapat berbuat semaunya. Mereka bisa menempatkannya untuk melayani siapa si kekayaan tergantung kepada hukum dan adat masyarakat.
Menurut Hayek dalam Skousen (2015), ini adalah jenis pemikiran yang membuat para intelektual mendukung semua jenis serangan terhadap properti dan kekayaan, dan mendukung pajak dan skema penyitaan yang ditujukan untuk pendistribusian ulang kekayaan dan pendapatan, sebab mereka menganggap skema radikal ini bisa dilakukan tanpa merugikan pertumbuhan ekonomi. Maka kemudian Boaz dalam Skousen (2015) menyatakan, “saya secara pribadi percaya bahwa alasan yang membuat intelektual masuk ke sosialisme adalah John Stuart Mill”. Bahkan dalam penjelasan selanjutnya, Stafford menyatakan, Mill mempengaruhi beberapa ilmuwan lainnya, hingga mereka kemudian mengatakan, “kita semua sekarang sosialis”
-> Perselingkuhan Mill dengan Sosialisme
Skousen (2015), menuliskan bahwa untuk memperkenalkan teori distribusi,
Mill mengawalinya dengan diskusi tentang kebaikan sosialisme. Ia keberatan
dengan kapitalisme dan merasa bahwa properti pribadi tidak selalu diperoleh
secara adil dan layak. Maka kemudian, Ia mendiskripsikan tiga sistem sosialis
(Skousen, 2015):
- Sosialisme Utopian: Masyarakat kooperatif, seperti yang dikembangkan olehRobert Owen, Saint-Simon, dan Fourier.
- Sosialisme Revolusioner: Kelompok radikal, termasuk komunis, yang berusaha merebut kekuasaan dengan paksa, nasionalisasikan industri, dan mencabut hak milik pribadi.
- Sosialisme Fasis: Regulasi birokratis dan control industri dan alat-alat produksi, distribusi dan perdagangan, seperti yang didukung oleh Farbian Society dan Partai buruh Inggris.
-> KESIMPULAN <-
Dari serangkaian pembahasan tadi, kesimpulanya adalah:
-
John Stuart Mill adalah salah satu tokoh dalam mazhab ekonomi klasik
bentukan Adam Smith. Doktrin klasik tetap masih melekat pada dirinya, bisa
terihat dari filosofinya tentang “kebebasan individu”.
-
JS Mill hidup dan dididik langsung oleh ayahnya, yaitu James Mill yang juga
merupakan ekonom. Pertemanan ayahnya dengan David Ricardo dan Jeremy
bentham, turut mempengaruhi pemikirannya.
-
Kendati demikian, agaknya JS Mill juga merupakan tokoh yang mulai
merumuskan konsep sosialis berkat pertemuannya dengan Harriet taylor,
dimana Ia adalah seorang yang sangat utilitarian dan menganut dogmatisme.
-
Tak mengherankan jika, dalam pemikiran ekonomi yang dibuatnya, Ia
melibatkan peran pemerintah, yang ketika itu sangat tabu untuk digunakan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar