Minggu, 26 Agustus 2018

Cara Perhitungan RSCA dan TBI - Indonesia 2011-2013

Melanjutkan dari blog sebelumnya, saya ulangi kembali mengenai rumus RSCA dan TBI sebagai berikut:

Ini merupakan komoditas-komoditas pilihan yang saya gunakan dengan mempertimbangkan tingkat keunggulan komparatifnya, saya kira-kira supaya dapat memberikan hasil pemetaan produk yang berbeda-beda.

Tabel. Komoditas ekspor-impor Indonesia

A. Metode Perhitungan

1. RCA = (Xij/Xoj)/(Xio/Xoo)
dimana:
Xij : Nilai ekspor komoditi i dari negara j (Indonesia)
Xoj : Total nilai ekspor non migas negara j (Indonesia)
Xio : Nilai ekspor komoditi i dari dunia

Xoo : Total nilai ekspor dunia

Maka, 
2. RSCA = (RCA-1)/(RCA+1) 

Dimana ->  nilai RSCA adalah antara -1 sampai 1 dengan kriteria bahwa RSCA > 0 adalah produk
yang memilki keunggulan, sedangkan RSCA < 0 adalah produk yang tidak memilki keunggulan.

3. TBIij = (Xij – Mij) / (Xij + Mij)

dimana:
Xij : Nilai ekspor produk barang i pada negara j (Indonesia)
Mij : Nilai impor produk barang i pada negara j (Indonesia)
atau,
TBI = Net Trade/Total Trade

B. HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Hasil Perhitungan RSCA

     Tabel 1. RSCA tahun 2011
 No
 Komoditas
 RCA
 RSCA
 1
Bovine meat, fresh, chilled or frozen
 0.000007120
 (0.999985760)
 2
Vegetables and fruit
 0.346143478
 (0.485725729)
 3
Coffee, tea, cocoa, spices, and manufactures thereof
 2.890856496
 0.485974360
 4
Palm oil
 37.199761708
 0.947643652
 5
Fertilizers, nes
 0.178619745
 (0.696900131)

    Tabel 2. RSCA tahun 2012
 No
 Komoditas
 RCA
 RSCA
 1
Bovine meat, fresh, chilled or frozen
 0.000020525
 (0.999958951)
 2
Vegetables and fruit
 0.347020543
 (0.484758351)
 3
Coffee, tea, cocoa, spices, and manufactures thereof
 3.351091531
 0.540345225
 4
Palm oil
 42.337994237
 0.953851118
 5
Fertilizers, nes
 0.143582531
 (0.748889954)

   Tabel 3. RSCA tahun 2013
 No
 Komoditas
 RCA
 RSCA
 1
Bovine meat, fresh, chilled or frozen
 0.000010261
 (0.999979479)
 2
Vegetables and fruit
 0.339255521
 (0.493367000)
 3
Coffee, tea, cocoa, spices, and manufactures thereof
 3.662437817
 0.571039855
 4
Palm oil
 48.033506275
 0.959211565
 5
Fertilizers, nes
 0.483536048
 (0.348130370)

Nilai RSCA menggambarkan besarnya daya saing suatu komoditas di perdagangan dunia. Secara umum terdapat 3 komoditas yang tidak memiliki keunggulan komparatif karena memiliki nilai <0 (negatif) pada daging sapi, sayuran dan buah dan pupuk dan cenderung melakukan impor yang besar sehingga berpotensi mengalami defisit neraca perdagangan. Sedangkan 2 komoditas lain kopi, teh, kakao, rempah, dan pupuk memiliki keunggulan komparatif dengan nilai >0 (positif) sehingga berpotensi untuk menambah devisa negara melalui kebijakan dan kinerja pemerintah karena memiliki surplus neraca perdagangan ditunjang dengan daya ekspor yang kuat di pasar global.

Hasil perhitungan nilai RSCA menunjukkan bahwa komoditas daging sapi dan sejenisnya, sayuran dan buah-buahan, dan pupuk di Indonesia secara umum tidak mempunyai daya saing di pasar dunia. Hal ini ditunjukkan dengan nilai RSCA yang negatif bahkan hingga -0,99 pada komoditas daging sapi tahun 2011-2013 dan cenderung stabil pada posisi nilai tersebut. Sedangkan untuk komoditas kopi, teh, coklat, dan rempah menunjukkan bahwa komoditas tersebut memiliki keunggulan komperatif yang cukup besar di perdagangan dunia yaitu 0,38 pada tahun 2011, naik menjadi 0,54 pada tahun 2012, kemudian naik kembali menjadi 0,57 pada tahun 2013.

Kemudian pada komoditas kelapa sawit, Indonesia memiliki keunggulan komperatif yang  sangat besar di pasar dunia, hal ini ditunjukkan nilai RSCA tahun 2011- 2013 selalu mendekati nilai 1 dan relatif stabil selama periode tersebut. (Untuk analisis lebih lanjut pada bagian analisis kebijakan dan kinerja).

2. Hasil Perhitungan TBI (Trade Balance Index)

    Tabel 1. TBI tahun 2011
 No
 Komoditas
 TBI
 1
Meat of bovine animals
- 1.0
 2
Vegetable & fruit
- 0.310
 3
Coffe, tea, and cocoa
0.636
 4
Palm oil
0.997
 5
Fertilizers
- 0.675

    Tabel 2. TBI tahun 2012
 No
 Komoditas
 TBI
 1
Meat of bovine animals
-1.0
 2
Vegetable fruit
-0.329
 3
Coffe, tea, and cocoa
0.717
 4
Palm oil
1.000
 5
Fertilizers
-0.834

    Tabel 3. TBI tahun 2013
 No
 Komoditas
 TBI
 1
Meat of bovine animals
- 1.0
 2
Vegetable & fruit
- 0.320
 3
Coffe, tea, and cocoa
0.774
 4
Palm oil
0.994
 5
Fertilizers
- 0.389
    Sumber: comtrade.un.org, Data Diolah Penulis

Nilai TBI digunakan untuk menganalisis posisi atau tahapan perkembangan perdagangan suatu komoditas. Secara umum terdapat 3 komoditas yang memiliki nilai TBI pada tahun 2011-2013 yang mempunyai nilai negatif yaitu pada komoditas daging sapi, sayuran dan buah, dan pupuk yang berarti bahwa komoditas-komoditas tersebut mempunyai daya saing yang sangat rendah. Kemudian terdapat 2 komoditas yang memiliki nilai TBI yang positif selama 3 tahun adalah kopi, teh, kakao, dan rempah serta minyak sawit. Jika nilanya positif diatas 0 sampai 1, maka komoditi bersangkutan dikatakan mempunyai daya saing yang kuat atau negara yang bersangkutan cenderung sebagai pengekspor dari komoditi tersebut (suplai domestik lebih besar daripada permintaan domestik).

Komoditas yang memiliki nilai TBI terendah adalah pada daging sapi secara beturut-turut dari tahun 2011-2013 adalah sebesar -1. Sesuai pada grafik products life cycle, Hal tersebut menunjukkan bahwa komoditas tersebut dalam perdagangan masih dalam tahap pengenalan dan daya saingnya sangat rendah disbanding komoditas lainnya atau cenderung sebagai pengimpor karena suplai domestik lebih kecil daripada permintaan domestik (bernilai negatif dibawah 0 hingga -1) serta perkembangan indeksnya memiliki nilai yang stabil selama 3 tahun.

Sementara untuk komoditas sayuran dan buah Indonesia mempunyai nilai TBI yang negatif selama tiga tahun. Pada perkembanganya dari tahun 2011-2013 nilai TBI nya cenderung fluktuatif dengan rentang volatilitas yang sangat kecil berturut-turut sebesar -0,31, -0,329, dan -0,32. Sesuai pada products life cycle, Hal tersebut menunjukkan bahwa komoditas tersebut dalam perdagangan masih dalam tahap pengenalan dan daya saingnya rendah atau cenderung sebagai pengimpor karena suplai domestik lebih kecil daripada permintaan domestik (bernilai negatif dibawah 0 hingga -1).

Pada komoditas kopi, teh, kakao, rempah, dan minyak sawit memiliki nilai TBI yang positif. Pada kelompok komoditas yang memiliki daya saing yang tertinggi adalah minyak sawit dengan nilai TBI secara berturut-turut tahun 2011-2013 adalah 0,997; 1,0; 0,994. Hal tersebut menunjukkan bahwa komoditi bersangkutan dikatakan mempunyai daya saing yang kuat diantara kelompok komoditas lainnya pada tabel diatas atau negara yang bersangkutan cenderung sebagai pengekspor dari komoditi tersebut (suplai domestik lebih besar daripada permintaan domestik). Dengan demikian minyak sawit telah memasuki tahap kematangan dimana nilai indeksnya  berada pada kisaran 0,81 sampai 1,00. Pada tahap ini produk minyak sawit sudah pada tahap standardisasi menyangkut teknologi yang dikandungnya. Pada tahap ini negara Indonesia merupakan negara net exporter.
Begitu juga dengan kelompok komoditas kopi, teh, kakao, dan rempah, memiliki nilai TBI secara berturut-turut sebesar 0,636; 0717; 0,774. Berdasarkan nilai tersebut menunjukkan bahwa kelompok komoditas  cenderung memiliki trend yang meningkat. Maka dapat disimpulkan bahwa kedua kelompok komoditas tersebut masuk dalam tahap pertumbuhan sesuai products life cycle yakni Nilai indeksnya naik antara 0,01 sampai 0,80, dan industri di negara Indonesia melakukan produksi dalam skala besar dan mulai meningkatkan ekspornya. Di pasar domestik, penawaran untuk komoditi tersebut lebih besar daripada permintaan.

Pada komoditas yang terakhir adalah pupuk. Secara berturut-turut komoditas ini memiliki nilai TBI yang negatif hampir sama dengan kelompok komoditas sayuran dan buah dimana dari tahun 2011-2013 adalah -0,675; -0,834; -0,389. Maka Sesuai pada products life cycle, Hal tersebut menunjukkan bahwa komoditas tersebut dalam perdagangan pada tahun 2011 berada dalam tahap pengenalan kemudian pada tahun 2012-2013 termasuk dalam tahap substitusi impor dimana nilai indeks TBI nya naik antara - 0,51 sampai 0,00. Pada tahap ini, industri di negara Indonesia menunjukkan daya saing yang sangat rendah, dikarenakan tingkat produksinya tidak cukup tinggi untuk mencapai skala ekonominya. Industri tersebut mengekspor produk-produk dengan kualitas yang kurang bagus dan produksi dalam negeri masih lebih kecil daripada permintaan dalam negeri. Dengan kata lain, untuk komoditi tersebut, pada tahap ini negara B lebih banyak mengimpor daripada mengekspor. Selain itu pada komoditas ini masih menunjukkankualitas daya saing yang rendah atau cenderung sebagai pengimpor karena suplai domestik lebih kecil daripada permintaan domestik (bernilai negatif dibawah 0 hingga -1).

Grafik. Products Life Cycle


Keterangan Gambar :
1. Tahap Pengenalan
2. Tahap Substitusi impor
3. Tahap pertumbuhan
4. Tahap Kematangan
5. Tahap Kembali Mengimpor


3. Pemetaan Produk (Products Mapping)

Grafik 1. Pemetaan Produk Tahun 2011    Grafik 2. Pemetaan Produk Tahun 2012

Grafik 3. Pemetaan Produk Tahun 2013

Sumber: Diolah oleh Penulis
*Note: Supaya mudah membentuk garis-garis dengan skala (supaya lebih rapi), saya menggunakan aplikasi SketchUp versi builder.


Maka, jika Grafik 1,2, dan 3 digabungkan menjadi,

Grafik 4. Gabungan Pemetaan Tahun 2011, 2012, dan 2013


Maka, hasil dari pemetaan produknya menjadi seperti berikut ini,

Gambar. Hasil dari Grup Pemetaan Produk


Pada gambar diatas terdapat pemetaan produk dari lima jenis komoditas Negara Indonesia. Sesuai pada gambar bahwa pada tahun 2011, 2012, dan 2013 tidak ada produk yang mengalami perubahan grup. Pada gambar diketahui bahwa terdapat dua grup yang ditempati yaitu grup A dan grup D. Komoditas yang tergolong pada grup A meliputi kopi, teh dan kakao (coklat) dan rempah (kode 07) dan minyak kelapa sawit (kode 4242). Seperti pada penelitian widodo bahwa komoditas yang tergolong grup A merupakan produk unggulan ekspor dan memiliki spesialisasi ekspor (net-exporter) dimana nilai RSCA>1 dan TBI>1. Selain itu komoditas unggulan pada kopi, kakao, teh, dan minyak sawit memiliki peran penting dalam menyumbang devisa negara Indonesia. Hal ini wajar apabila dilihat dari keunggulan perekonomian Indonesia yang lebih banyak terdapat pada kegiatan produksi yang berbasis sumber daya alam dibandingkan dengan kegiatan produksi yang berbasis teknologi maupun modal (Dumairy, 1996).

Pada Grup B terdapat tiga komoditas yang meliputi daging sapi an sejenisnya (kode 0111), sayuran dan buah-buahan (kode 05) dan pupuk (kode 5629). Komoditas yang tegolong grup ini menunjukkan bahwa ketiga komoditas tersebut tidak memiliki keunggulan komparatif dan tidak memiliki spesialisasi ekspor (net-importer) dimana nilai RSCA<1 dan TBI<1.

Pada grafik 4, terdapat 2 komoditas yang cenderung hampir tidak mengalami perubahan nilai RSCA dan TBI yaitu daging sapi dan kelapa sawit. Komoditas daging sapi memiliki nilai ekspor yang sangat rendah, sebaliknya komoditas kelapa sawit memiliki nilai ekspor yang sangat tinggi yaitu pada tabel 4 ketika pada tahun 2012 nilai TBI mencapai angka maksimal yaitu 1 yang artinya komoditas kelapa sawit memiliki daya saing yang sangat tinggi di pangsa pasar dunia dan sebagai sentra produksi yang dapat diunggulkan daripada empat komoditas yang lainnya. Alasan pemetaan tiap produk lebih lanjut akan dibahas dalam analisis kinerja.