Ini merupakan komoditas-komoditas pilihan yang saya gunakan dengan mempertimbangkan tingkat keunggulan komparatifnya, saya kira-kira supaya dapat memberikan hasil pemetaan produk yang berbeda-beda.
Tabel. Komoditas ekspor-impor Indonesia
A. Metode Perhitungan
1. RCA
= (Xij/Xoj)/(Xio/Xoo)
dimana:
Xij
: Nilai ekspor komoditi i dari negara j (Indonesia)
Xoj
: Total nilai ekspor non migas negara j (Indonesia)
Xio
: Nilai ekspor komoditi i dari dunia
Xoo
: Total nilai ekspor dunia
Maka,
2. RSCA
= (RCA-1)/(RCA+1)
Dimana -> nilai RSCA adalah antara -1 sampai 1 dengan kriteria bahwa RSCA > 0 adalah produk
yang memilki keunggulan, sedangkan RSCA < 0 adalah produk yang tidak memilki keunggulan.
3. TBIij
= (Xij – Mij) / (Xij + Mij)
dimana:
Xij
: Nilai ekspor produk barang i pada negara j (Indonesia)
Mij
: Nilai impor produk barang i pada negara j (Indonesia)
atau,
TBI
= Net Trade/Total Trade
B. HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Hasil Perhitungan RSCA
Tabel 1. RSCA tahun 2011
No
|
Komoditas
|
RCA
|
RSCA
|
1
|
Bovine meat, fresh, chilled
or frozen
|
0.000007120
|
(0.999985760)
|
2
|
Vegetables and fruit
|
0.346143478
|
(0.485725729)
|
3
|
Coffee, tea, cocoa, spices,
and manufactures thereof
|
2.890856496
|
0.485974360
|
4
|
Palm oil
|
37.199761708
|
0.947643652
|
5
|
Fertilizers, nes
|
0.178619745
|
(0.696900131)
|
Tabel 2. RSCA tahun 2012
No
|
Komoditas
|
RCA
|
RSCA
|
1
|
Bovine meat, fresh, chilled
or frozen
|
0.000020525
|
(0.999958951)
|
2
|
Vegetables and fruit
|
0.347020543
|
(0.484758351)
|
3
|
Coffee, tea, cocoa, spices,
and manufactures thereof
|
3.351091531
|
0.540345225
|
4
|
Palm oil
|
42.337994237
|
0.953851118
|
5
|
Fertilizers, nes
|
0.143582531
|
(0.748889954)
|
Tabel 3. RSCA tahun 2013
No
|
Komoditas
|
RCA
|
RSCA
|
1
|
Bovine meat, fresh, chilled
or frozen
|
0.000010261
|
(0.999979479)
|
2
|
Vegetables and fruit
|
0.339255521
|
(0.493367000)
|
3
|
Coffee, tea, cocoa, spices,
and manufactures thereof
|
3.662437817
|
0.571039855
|
4
|
Palm oil
|
48.033506275
|
0.959211565
|
5
|
Fertilizers, nes
|
0.483536048
|
(0.348130370)
|
Nilai RSCA menggambarkan besarnya daya
saing suatu komoditas di perdagangan dunia. Secara umum terdapat 3 komoditas
yang tidak memiliki keunggulan komparatif karena memiliki nilai <0 (negatif)
pada daging sapi, sayuran dan buah dan pupuk dan cenderung melakukan impor yang
besar sehingga berpotensi mengalami defisit neraca perdagangan. Sedangkan 2
komoditas lain kopi, teh, kakao, rempah, dan pupuk memiliki keunggulan
komparatif dengan nilai >0 (positif) sehingga berpotensi untuk menambah
devisa negara melalui kebijakan dan kinerja pemerintah karena memiliki surplus
neraca perdagangan ditunjang dengan daya ekspor yang kuat di pasar global.
Hasil perhitungan nilai RSCA menunjukkan
bahwa komoditas daging sapi dan sejenisnya, sayuran dan buah-buahan, dan pupuk
di Indonesia secara umum tidak mempunyai daya saing di pasar dunia. Hal ini
ditunjukkan dengan nilai RSCA yang negatif bahkan hingga -0,99 pada komoditas
daging sapi tahun 2011-2013 dan cenderung stabil pada posisi nilai tersebut.
Sedangkan untuk komoditas kopi, teh, coklat, dan rempah menunjukkan bahwa
komoditas tersebut memiliki keunggulan komperatif yang cukup besar di
perdagangan dunia yaitu 0,38 pada tahun 2011, naik menjadi 0,54 pada tahun
2012, kemudian naik kembali menjadi 0,57 pada tahun 2013.
Kemudian pada komoditas kelapa sawit,
Indonesia memiliki keunggulan komperatif yang sangat besar di pasar dunia, hal ini ditunjukkan nilai RSCA
tahun 2011- 2013 selalu mendekati nilai 1 dan relatif stabil selama periode
tersebut. (Untuk analisis lebih lanjut pada bagian analisis kebijakan dan
kinerja).
2. Hasil Perhitungan TBI (Trade Balance Index)
Tabel 1. TBI tahun 2011
No
|
Komoditas
|
TBI
|
1
|
Meat
of bovine animals
|
-
1.0
|
2
|
Vegetable
& fruit
|
-
0.310
|
3
|
Coffe,
tea, and cocoa
|
0.636
|
4
|
Palm
oil
|
0.997
|
5
|
Fertilizers
|
-
0.675
|
Tabel 2. TBI tahun 2012
No
|
Komoditas
|
TBI
|
1
|
Meat
of bovine animals
|
-1.0
|
2
|
Vegetable
fruit
|
-0.329
|
3
|
Coffe,
tea, and cocoa
|
0.717
|
4
|
Palm
oil
|
1.000
|
5
|
Fertilizers
|
-0.834
|
Tabel 3. TBI tahun 2013
No
|
Komoditas
|
TBI
|
1
|
Meat
of bovine animals
|
-
1.0
|
2
|
Vegetable
& fruit
|
-
0.320
|
3
|
Coffe,
tea, and cocoa
|
0.774
|
4
|
Palm
oil
|
0.994
|
5
|
Fertilizers
|
-
0.389
|
Sumber: comtrade.un.org, Data Diolah Penulis
Nilai
TBI digunakan untuk menganalisis posisi atau tahapan perkembangan perdagangan
suatu komoditas. Secara umum terdapat 3 komoditas yang memiliki nilai TBI pada
tahun 2011-2013 yang mempunyai nilai negatif yaitu pada komoditas daging sapi,
sayuran dan buah, dan pupuk yang berarti bahwa komoditas-komoditas tersebut
mempunyai daya saing yang sangat rendah. Kemudian terdapat 2 komoditas yang
memiliki nilai TBI yang positif selama 3 tahun adalah kopi, teh, kakao, dan
rempah serta minyak sawit. Jika nilanya positif diatas 0 sampai 1, maka
komoditi bersangkutan dikatakan mempunyai daya saing yang kuat atau negara yang
bersangkutan cenderung sebagai pengekspor dari komoditi tersebut (suplai
domestik lebih besar daripada permintaan domestik).
Komoditas
yang memiliki nilai TBI terendah adalah pada daging sapi secara beturut-turut
dari tahun 2011-2013 adalah sebesar -1. Sesuai pada grafik products life cycle, Hal tersebut menunjukkan bahwa komoditas
tersebut dalam perdagangan masih dalam tahap pengenalan dan daya saingnya sangat
rendah disbanding komoditas lainnya atau cenderung sebagai pengimpor karena
suplai domestik lebih kecil daripada permintaan domestik (bernilai negatif
dibawah 0 hingga -1) serta perkembangan indeksnya memiliki nilai yang stabil
selama 3 tahun.
Sementara
untuk komoditas sayuran dan buah Indonesia mempunyai nilai TBI yang negatif
selama tiga tahun. Pada perkembanganya dari tahun 2011-2013 nilai TBI nya
cenderung fluktuatif dengan rentang volatilitas yang sangat kecil
berturut-turut sebesar -0,31, -0,329, dan -0,32. Sesuai pada products life cycle, Hal tersebut
menunjukkan bahwa komoditas tersebut dalam perdagangan masih dalam tahap
pengenalan dan daya saingnya rendah atau cenderung sebagai pengimpor karena
suplai domestik lebih kecil daripada permintaan domestik (bernilai negatif
dibawah 0 hingga -1).
Pada
komoditas kopi, teh, kakao, rempah, dan minyak sawit memiliki nilai TBI yang
positif. Pada kelompok komoditas yang memiliki daya saing yang tertinggi adalah
minyak sawit dengan nilai TBI secara berturut-turut tahun 2011-2013 adalah
0,997; 1,0; 0,994. Hal tersebut menunjukkan bahwa komoditi bersangkutan
dikatakan mempunyai daya saing yang kuat diantara kelompok komoditas lainnya
pada tabel diatas atau negara yang bersangkutan cenderung sebagai pengekspor
dari komoditi tersebut (suplai domestik lebih besar daripada permintaan
domestik). Dengan demikian minyak sawit telah memasuki tahap kematangan dimana
nilai indeksnya berada pada
kisaran 0,81 sampai 1,00. Pada tahap ini produk minyak sawit sudah pada tahap
standardisasi menyangkut teknologi yang dikandungnya. Pada tahap ini negara
Indonesia merupakan negara net exporter.
Begitu
juga dengan kelompok komoditas kopi, teh, kakao, dan rempah, memiliki nilai TBI
secara berturut-turut sebesar 0,636; 0717; 0,774. Berdasarkan nilai tersebut
menunjukkan bahwa kelompok komoditas
cenderung memiliki trend yang meningkat. Maka dapat disimpulkan bahwa
kedua kelompok komoditas tersebut masuk dalam tahap pertumbuhan sesuai products life cycle yakni Nilai
indeksnya naik antara 0,01 sampai 0,80, dan industri di negara Indonesia
melakukan produksi dalam skala besar dan mulai meningkatkan ekspornya. Di pasar
domestik, penawaran untuk komoditi tersebut lebih besar daripada permintaan.
Pada
komoditas yang terakhir adalah pupuk. Secara berturut-turut komoditas ini
memiliki nilai TBI yang negatif hampir sama dengan kelompok komoditas sayuran
dan buah dimana dari tahun 2011-2013 adalah -0,675; -0,834; -0,389. Maka Sesuai
pada products life cycle, Hal
tersebut menunjukkan bahwa komoditas tersebut dalam perdagangan pada tahun 2011
berada dalam tahap pengenalan kemudian pada tahun 2012-2013 termasuk dalam
tahap substitusi impor dimana nilai indeks TBI nya naik antara - 0,51 sampai
0,00. Pada tahap ini, industri di negara Indonesia menunjukkan daya saing yang
sangat rendah, dikarenakan tingkat produksinya tidak cukup tinggi untuk
mencapai skala ekonominya. Industri tersebut mengekspor produk-produk dengan
kualitas yang kurang bagus dan produksi dalam negeri masih lebih kecil daripada
permintaan dalam negeri. Dengan kata lain, untuk komoditi tersebut, pada tahap
ini negara B lebih banyak mengimpor daripada mengekspor. Selain itu pada
komoditas ini masih menunjukkankualitas daya saing yang rendah atau cenderung
sebagai pengimpor karena suplai domestik lebih kecil daripada permintaan
domestik (bernilai negatif dibawah 0 hingga -1).
Grafik. Products Life
Cycle
Keterangan Gambar :
1. Tahap Pengenalan
2. Tahap Substitusi impor
3. Tahap pertumbuhan
4. Tahap Kematangan
5.
Tahap Kembali Mengimpor
3. Pemetaan Produk (Products Mapping)
Grafik
1. Pemetaan Produk Tahun 2011 Grafik
2. Pemetaan Produk Tahun 2012
Grafik
3. Pemetaan Produk Tahun 2013
Sumber: Diolah oleh Penulis
*Note: Supaya mudah membentuk garis-garis dengan skala (supaya lebih rapi), saya menggunakan aplikasi SketchUp versi builder.
Maka, jika Grafik 1,2, dan 3 digabungkan menjadi,
Grafik 4. Gabungan Pemetaan Tahun 2011, 2012, dan 2013
Maka, hasil dari pemetaan produknya menjadi seperti berikut ini,
Gambar.
Hasil dari Grup Pemetaan Produk
Pada gambar diatas terdapat pemetaan
produk dari lima jenis komoditas Negara Indonesia. Sesuai pada gambar bahwa
pada tahun 2011, 2012, dan 2013 tidak ada produk yang mengalami perubahan grup.
Pada gambar diketahui bahwa terdapat dua grup yang ditempati yaitu grup A dan
grup D. Komoditas yang tergolong pada grup A meliputi kopi, teh dan kakao
(coklat) dan rempah (kode 07) dan minyak kelapa sawit (kode 4242). Seperti pada
penelitian widodo bahwa komoditas yang tergolong grup A merupakan produk
unggulan ekspor dan memiliki spesialisasi ekspor (net-exporter) dimana nilai
RSCA>1 dan TBI>1. Selain itu komoditas unggulan pada kopi,
kakao, teh, dan minyak sawit memiliki peran penting dalam menyumbang devisa
negara Indonesia. Hal ini wajar apabila dilihat dari keunggulan perekonomian
Indonesia yang lebih banyak terdapat pada kegiatan produksi yang berbasis
sumber daya alam dibandingkan dengan kegiatan produksi yang berbasis teknologi
maupun modal (Dumairy, 1996).
Pada Grup B terdapat tiga komoditas yang
meliputi daging sapi an sejenisnya (kode 0111), sayuran dan buah-buahan (kode
05) dan pupuk (kode 5629). Komoditas yang tegolong grup ini menunjukkan bahwa
ketiga komoditas tersebut tidak memiliki keunggulan komparatif dan tidak
memiliki spesialisasi ekspor (net-importer) dimana nilai RSCA<1 dan
TBI<1.
Pada grafik 4, terdapat 2 komoditas yang
cenderung hampir tidak mengalami perubahan nilai RSCA dan TBI yaitu daging sapi
dan kelapa sawit. Komoditas daging sapi memiliki nilai ekspor yang sangat
rendah, sebaliknya komoditas kelapa sawit memiliki nilai ekspor yang sangat
tinggi yaitu pada tabel 4 ketika pada tahun 2012 nilai TBI mencapai angka
maksimal yaitu 1 yang artinya komoditas kelapa sawit memiliki daya saing yang
sangat tinggi di pangsa pasar dunia dan sebagai sentra produksi yang dapat
diunggulkan daripada empat komoditas yang lainnya. Alasan pemetaan tiap produk lebih
lanjut akan dibahas dalam analisis kinerja.







